Langsung ke konten utama

WARU_[Puisi]

"Ini Tentang WARU
Indah nan permai
Membius tiap mata yang memandang..
Lelah, penat perjalanan. Tiba lukisan indah.
Coretan ini berawal dari lelaki yang datang dengan penuh riuh di dada,
gelisah, risau tak menentu
perlahan redah dengan deretan pepohonan dan rimbun hijau dedaunan, bauh tanah, dan sumber air yang mengalirkan keseimbangan syair
Ada aroma kopi yang ditawarkan, diracik dengan tangan penuh cinta
Senyum sapa yang ramah, berjejeran. Kami larut bersama damai..
Antusias, suka ria, menyambut kedatangan
Berbagi cerita, ilmu yang tak kami dapatkan di bangku pendidikan,
Tentang kebersamaan, kekeluargaan. Jaminan masa depan yang menjaga peri kemanusiaan,
Kelangsungan kehidupan..
Kami sungguh dengan jelas melihat keseimbangan
Ada nilai budaya, religius yang masih tetap terjaga
Meski bersamaan,
Berbarengan dengan keramaian pengunjung di tiap penghujung. Oh, harmoni..
Keceriaan anak-anak menikmati masanya, berlarian, bermain air
Khusyuknya bapak-bapak menikmati kopinya
Dan pancaran suka ria dan pengunjung..
Sebulan sudah kami bersamamu
Tak banyak yang dapat kami berikan

Tapi satu yang ingin kami ucapkan,
Apa yang kami lakukan,
apa yang aku ucapkan, dari kemurnian hati penuh kasih. Penuh cinta
Satu hal yang ingin aku ungkapkan;
Jaminan pada tiap generasi penerus
Jaga dan lestarikan keindahan ini
Kami mencintaimu WARU nan permai..
Maguan, 09 Februari 2019 "
Mitha Randy Madubun, puisi untuk WARU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosaku Mencinta (1)

Hiruk pikuk nuansa batin, begitu pula yang tergambar saat sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya sebagai aktivis kampus sedang menikmati seduhan kopi di kantin kampus. Orang-orang kampus berlalu-lalang, sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang tertunduk namun merangak, sepertinya asik menikmati game pada gadgetnya . Dari arah utara mulai terlihat segerombol dengan dominasi mahasiswi berarah ke kantin. Aku yang tidak begitu penting dengan suara ribut yang mulai mendekat, di meja sebelah, sempat mengangkat pandangan yang sedari tadi memfokuskan pikiran pada bacaan Novel Arah Langkah karangan Fiersa Basari ini, memerhatikan, sontak terpanah, tersenyum batin ini. Oh Tuhan, sungguh kumemuja asmaMu, inilah salah satu ciptaan terindahMu. Hati bergetar, mungkinkah ini cinta pandangan pertama (yang sejak dulu tak kupercayai)?, dalam hati ingin mendekati, mengulurkan tangan dan mengucap salam kenal. Pada bagian buku ini kututup, alih-alih kuperhatikan. Perempuan bersosok...

Oleh-oleh

  "Sore diguyuri hujan saat musim kemarau. Malang lagi tak menonjolkan suhu ademnya yang mencekam kedua telinga dan menembus pori-pori kulit yang tipis ini. Saya terjebak di warung Pakde kampus III, menikmati kopi dan merefleksi diri dalam sepekan ini. Mencoba mengabadikannya agar terkenang seiring zaman.." Pekan lalu, perjalananku menembus awan tebal dari kampung halaman. Setiba, satu pertanyaan yang sama berentetan menyambut terucapkan dari orang yang berbeda-beda, "mana oleh-olehnya?". Aku jujur dengan keberangkatanku yang mendadak itu. Sungguh Ayahku dalangnya. Mengecek berbagai pesan whatsapp, aku lebih memfokuskan mata untuk membaca info yang dibagikan di grup mahasiswa fakultas Reguler A. Sampai lupa bahwa proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum sudah dimulai. Aku mulai antusias dengan proses demokrasi di fakultasku ini, namun ada hal yang menjanggal dalam pikiranku, tak ...