Langsung ke konten utama

Oleh-oleh


 

"Sore diguyuri hujan saat musim kemarau. Malang lagi tak menonjolkan suhu ademnya yang mencekam kedua telinga dan menembus pori-pori kulit yang tipis ini. Saya terjebak di warung Pakde kampus III, menikmati kopi dan merefleksi diri dalam sepekan ini. Mencoba mengabadikannya agar terkenang seiring zaman.."

Pekan lalu, perjalananku menembus awan tebal dari kampung halaman. Setiba, satu pertanyaan yang sama berentetan menyambut terucapkan dari orang yang berbeda-beda, "mana oleh-olehnya?". Aku jujur dengan keberangkatanku yang mendadak itu. Sungguh Ayahku dalangnya.

Mengecek berbagai pesan whatsapp, aku lebih memfokuskan mata untuk membaca info yang dibagikan di grup mahasiswa fakultas Reguler A. Sampai lupa bahwa proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Mahasiswa serta Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum sudah dimulai. Aku mulai antusias dengan proses demokrasi di fakultasku ini, namun ada hal yang menjanggal dalam pikiranku, tak lain bahwa hanya satu paslon yang telah ditetapkan oleh KPR (Komisi Pemilihan Raya), KPR yang baru saja diistilahkan oleh para DPM dan BEM yang akhir masa kepengurusannya ini beserta anggota KPR yang terpilih periode ini. Sungguh suatu keganjalan yang menarik perhatianku untuk segera mungkin bergegas terlibat dalam proses ini.

Hari mulai petang, mengajak para penikmat kopi untuk berkumpul dan berdiskusi. Setelah berberes-beres, aku diajak Juan untuk berkumpul dengan beberapa mahasiswa fakultas untuk menanggapi proses pilgubma serta dpm. Aku dengan spontan menyampaikan kekecewaan pada teman-teman yang kurang antusias-partisipatif dan kritis dalam proses rutinitas tahunan ini. Dengan dinamika yang adem seperti cuaca kota ini, tak ada proses pembelajaran demokrasi dan politik pada mahasiswa ketika kita sebagai peserta hanya mengawal ataupun berpartisipasi hanya saat puncak penyelengaraannya saja.

Dalam pertemuan pertama, aku menanyakan legalitas pada beberapa teman yang dalam hal ini telah terpilih sebagai penyelenggara, sudah kuduga, belum ada. Dengan mengistilahkan nama penyelenggara dengan KPR saja sudah inkonstitusinal menurut PUOK (Pedomanan Umum Organisasi Kemahasiswan) UWG, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa KPU (sebagai penyelenggara), mau itu di tingkat universitas maupun fakultas.
Jangan salah juga, jika penyelenggara pemilihan membuat suatu kebijakan menyampingkan segi hukumnya, yang dalam hal ini prosedur administrasi, normatif dan idealnya.

Dalam pertemuan itu pula, ada teman yang pernah mengungkapkan kemauannya saat untuk maju prapemilihan, kembali diucapkan. Dari sisi komitmen yang kulihat, iktikadnya sungguh bulat. Kini, arah diskusi kami mulai terarah pada niatnya. Beberapa strategi yang didiskusikan untuk meloloskannya pada pemilihan ditawarkan. Aku yang begitu empati dengannya mulai menyusun langkah. Tak lain ada dua hal yang ingin kuleburkan. Pertama, mengkritisi KPR dari awal pembentukannya, memulai proses dari awal, dan kedua, setelah pendaftaran otomatis dibuka kembali, mendaftarlah yang ingin mencalon. Sungguh suatu langkah yang agak frontal.

Dengan memosisikan diri dari tiga aspek yang saat ini melekat, aku musti profesional menempatkan diri dalam proses ini. Pasif-Terbuka adalah prinsipku dalam memosisikan diri dari konstelasi perpolitikan yang mulai terbangun. Sepekan aku lebih banyak diajak hanya oleh satu paslon, semua aspek dalam proses ditanyakan dan kami diskusikan. Aku korelasikan proses ini dengan pendekatan relasi seorang lelaki yang ingin mengambil hati seorang perempuan untuk menjalin suatu hubungan asmara.

Dengan prinsip yang sudah kutanamkan, aku musti terbuka dalam segala hal untuk berdiskusi dengan para paslon dan siapa saja yang mengajak berdiskusi. Aku jelaskan terkait strategi yang kukorelasikan dengan pendekatan suatu hubungan asmara. Tahap pertama, si target musti kita yakinkan dengan komitmen. Kedua, kita harus mempunyai strategi dalam pendekatan. Ketiga, kita yakinkan dengan romantisasi berbagai janji yang manis namun sarat apa adanya.
Semua tahap kami diskusikan, namun entah dalam pelaksanaannya apakah optimal, efekttif dan efisien, itu diluar urusanku. Aku hanya mementingkan proses pemilihan ini berjalan seideal mungkin.

Untuk mengkontekskan kembali apa yang kumaksud, musti penjelesan tiap tahap kusampaikan. Bahwa, komitmen dan motivasi para kandidat yang maju harus diutarakan pada pemilih. Dan strategi yang kumaksud adalah semua upaya musti strategis dan masih dalam koridor politik yang sehat. Dan untuk janji manis adalah visi-misi beserta program yang ideal namun kontekstual sesuai kondisi.
Tahap demi tahap terlewati, KPR kembali dengan nama KPU sesuai PUOK. Dan penetapan-penetapan dengan prosedur hukum administrai yang baik. Dua Paslon berkompetisi dengan sehat.
Kamis 04 Juli 2019, awal mahasiswa melegitimasi siapapun yang akan terpilih untuk memimpin satu tahun arah BEM FH UWG dan aktivitas mahasiswa mau dikemanakan, dipercayakan. Semoga lebih baik.

Kebanggan pribadi dan semua mahasiswa fakultas kepada keempat mahasiswa yang berkomitmen untuk mengabdi terhadap fakultas, universitas ini. Dan juga untuk para calon DPM yang secara aklamasi terpilih berdasarkan jumlah kursi dan yang mencalon.

Terkait oleh-oleh yang ditanyakan, inilah yang kubawa untuk teman-teman yang sepemikiran dan komitmen mengawal proses ini.
Alan, Juan, Gufron, Fenia, Wahyudin, Adit, Dewa, Habib, Sabri dkk. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARU_[Puisi]

"Ini Tentang WARU Indah nan permai Membius tiap mata yang memandang.. Lelah, penat perjalanan. Tiba lukisan indah. Coretan ini berawal dari lelaki yang datang dengan penuh riuh di dada, gelisah, risau tak menentu perlahan redah dengan deretan pepohonan dan rimbun hijau dedaunan, bauh tanah, dan sumber air yang mengalirkan keseimbangan syair Ada aroma kopi yang ditawarkan, diracik dengan tangan penuh cinta Senyum sapa yang ramah, berjejeran. Kami larut bersama damai.. Antusias, suka ria, menyambut kedatangan Berbagi cerita, ilmu yang tak kami dapatkan di bangku pendidikan, Tentang kebersamaan, kekeluargaan. Jaminan masa depan yang menjaga peri kemanusiaan, Kelangsungan kehidupan.. Kami sungguh dengan jelas melihat keseimbangan Ada nilai budaya, religius yang masih tetap terjaga Meski bersamaan, Berbarengan dengan keramaian pengunjung di tiap penghujung. Oh, harmoni.. Keceriaan anak-anak menikmati masanya, berlarian, bermain air Khusy...

Prosaku Mencinta (1)

Hiruk pikuk nuansa batin, begitu pula yang tergambar saat sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya sebagai aktivis kampus sedang menikmati seduhan kopi di kantin kampus. Orang-orang kampus berlalu-lalang, sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang tertunduk namun merangak, sepertinya asik menikmati game pada gadgetnya . Dari arah utara mulai terlihat segerombol dengan dominasi mahasiswi berarah ke kantin. Aku yang tidak begitu penting dengan suara ribut yang mulai mendekat, di meja sebelah, sempat mengangkat pandangan yang sedari tadi memfokuskan pikiran pada bacaan Novel Arah Langkah karangan Fiersa Basari ini, memerhatikan, sontak terpanah, tersenyum batin ini. Oh Tuhan, sungguh kumemuja asmaMu, inilah salah satu ciptaan terindahMu. Hati bergetar, mungkinkah ini cinta pandangan pertama (yang sejak dulu tak kupercayai)?, dalam hati ingin mendekati, mengulurkan tangan dan mengucap salam kenal. Pada bagian buku ini kututup, alih-alih kuperhatikan. Perempuan bersosok...