Hiruk pikuk nuansa batin, begitu pula yang tergambar saat sekelompok
mahasiswa yang menamakan dirinya sebagai aktivis kampus sedang menikmati
seduhan kopi di kantin kampus. Orang-orang kampus berlalu-lalang, sibuk
dengan urusannya masing-masing. Ada yang tertunduk namun merangak,
sepertinya asik menikmati game pada gadgetnya.
Dari arah utara mulai terlihat segerombol dengan dominasi mahasiswi berarah ke kantin. Aku yang tidak begitu penting dengan suara ribut yang mulai mendekat, di meja sebelah, sempat mengangkat pandangan yang sedari tadi memfokuskan pikiran pada bacaan Novel Arah Langkah karangan Fiersa Basari ini, memerhatikan, sontak terpanah, tersenyum batin ini.
Oh Tuhan, sungguh kumemuja asmaMu, inilah salah satu ciptaan terindahMu. Hati bergetar, mungkinkah ini cinta pandangan pertama (yang sejak dulu tak kupercayai)?, dalam hati ingin mendekati, mengulurkan tangan dan mengucap salam kenal. Pada bagian buku ini kututup, alih-alih kuperhatikan. Perempuan bersosok lembut rupa, kalem, hanya diam tersenyum dalam senda gurau dan bising sekawanannya.
Pada beberapa bagian buku (Novel Arah Langkah -- Fiersa Basari) ini, aku sebagai pembaca awam yang mencoba memahami dan memaknai secara konprehensif, menginterprestasikan latar-belakang, berangkatnya Pengarang dalam menulis buku ini sebab ada rasa kekecewaan yang begitu besar sesak di dalam dadanya. Meski dalam latar belakang buku, Pengarang sudah menjelaskan sebagai pengabadian ekspedisi Pengarang dan kawan-kawannya. Namun itulah yang kutafsirkan dari banyaknya catatan yang kubaca.
Beranjak dari interprestasiku itu pula, kalau Fiersa Basari menulis karena patah-hati, apakah aku yang sedang jatuh-hati mendadak ini pun akan melakukan hal serupa, menulis?
Ya, namun bukan hanya karena terinspirasi dari Fiersa Basari, akan tetapi bagiku tiap orang memiliki caranya tersendiri dalam menyukai, mencintai. Aku yang sedari dulu condong mengungkapkan perasaan (suka dan duka) dengan kata kata (tulis) dikarenakan gagap dalam berucap saat berhadapan dengan orang yang kucintai.
Bukan hanya perkara cinta pada lawan jenis, pada orang tua pun aku tak pernah mengucapkan bahasa kasih sayang, cinta dan sejenisnya. Dus, ungkapan hanya selalu kuutarakan dalam doa dan aksara. Dan berharap ada kepekaan dan komunikasi yang baik akan terbangun. Dalam menjalin hubungan.
Beranjak dari itu pula, kini aku ingin mengungkapkan perasaan lewat prosa ini. Prosa yang tak berirama pun puitik seperti orang pada umumnya. Hanya coretan biasa yang untuk mengurangi beban di dada.
***
"Awal perjumpaan itu, kini hati seringkali gelisah, entah apa yang digelisahkan, nalar tak mampu menjawab, alam raya sebagai pelampiasan pelarian pun enggan memberikan tanda. Seringkali hati merindu, namun entah rindu pada siapa, sebab ia sesat di antara kata-kata yang tak bermakna, oleh tiap mata yang menganga, membaca.
Pada suatu malam, hitam pekat dan asap lembut beraroma sedap menemani sebagai saksi atas kegelisahan yang kerap menerpa. Terjawab sudah dengan jelas meski dengan tanya, yang tak mampu dijelaskan oleh kata. Nona, kau alasannya.
Sungguh, rumit menjelaskan namun itulah yang dirasa. Bayang wajahmu memesona, mengahadirkan asa tuk mencinta, mengalihkan hati yang pernah patah. Lahir sebagai kekuatan dalam melangkah, untuk mencapai cita-cinta.
Nona, cita-citaku cukup sederhana, cintaku disambut setia tanpa memaksa. Sebab, begitulah perkara cinta, ia hadir untuk membebaskan. Bebas dari segala ikatan yang memberatkan. Lalu jika hanya satu hati yang diunggulkan, bagaimana kebebasan dalam percintaan itu diharapkan. Biarkan, itu bukan urusanmu, sayang.
Sesekali, kita mesti saling berbagi, bukan hal materi, tapi kasih-mengasihi, untuk menghargai, bahwa ada hati yang sudah terpatri, oleh Ilahi.
Nona, sebelum bagian akhir prosa ini, ada hal yang mesti kau ketahui, sebanyak apapun kata-kata pujangga, tak dapat mewakili seluruh rasaku akan pesonamu. Seperti apa yang telah kusampaikan pada awal tulisan, lewatmu, aku memuji asmaNya, menunduk dan berserah padaNya. Sebab, kau adalah satu dari jutaan tajali akan kebeseranNya.
Bagitulah yang kusaksikan pada lesung merahmu, alis matamu, dagu, senyummu dan semua cantik rupahmu. Seperti ada konspirasi yang membuatku terpaku.
Nantikan dan pastikan prosaku mencinta selalu berlanjut untukmu."
Uwiga, Agustus 2019
Komentar